A. Persiapan
1. Kegiatan Pembimbingan di Kampus
Adapun kegiatan pembimbingan di kampus dilaksanakan dengan rincian waktu yang digunakan sebagai berikut :
1. Pada hari sabtu, 10 september2011 pembukaan pembekalan perdana bertempat di Program Studi Masing-masing.
2. Pada Hari Jumat, 12 september 2011 penyajian materi mengenai penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
3. Pada tangal 13 Februari - 17 september 2011, latihan PBM yang dilakukan oleh masing-masing mahasiswa KKP-PPL serta mempersentasekan saru per satu RPP yang telah dibuat
4. Pada Hari rabu, 18 Februari 2011 Penentuan lokasi KKP sekaligus penutupan pembekalan oleh ketua UP-PPL FKIP.
5. Pada Hari Selasa 21 september 2011 pelepasan sekaligus penerimaan mahasiswa KKP oleh pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah SMA Kartika VII-2 Kendari.
2. Kegiatan Praktek di Sekolah
Kegiatan praktek di sekolah di awali dengan tahap observasi dan orientasi selama satu minggu kemudian dilanjutkan dengan kegiatan proses Pembelajaran di dalam kelas dengan alokasi waktu kurang lebih 15 (lima belas) minggu termasuk libur Ujian sekolah dan ujian nasional.
B. Pelaksanaan PPL (Praktek Terbimbing dan Mandiri)
1. Kegiatan Praktek Mengajar
Nama Sekolah : SMA Kartika VII-2 Kendari
Nama Mahasiswa : Sitti Herfina
Mata Pelajaran : Sejarah
Kelas : X
Hari/Tanggal : Kamis, 30 September – 14 Oktober 2011
Kegiatan Praktek mengajar dibagi dalam 3 tahap kegiatan yaitu Praktek terbimbing, Praktek mandiri, dan ujian akhir. Selama Praktek terbimbing, penulis mendapatkan pembimbingan dan supervisi klinis dari guru pamong. Sedangkan Praktek mandiri dilakukan oleh penulis setelah pelaksanaan Praktek terbimbing dan dianggap mampu oleh guru pamong. Pelaksanaan Praktek terbimbing dan Praktek mandiri ini mulai dari tanggal 3O september sampai dengan 9 desember 2011 atau kurang lebih sekitar 15 minggu pelaksanaannya dan tiap minggu terdapat 3 kali Praktek mengajar dalam dua kelas, yaitu kelas X.2, X1 dan x4 . Dalam kegiatan bimbingan Praktek di sekolah, penulis yang ditempatkan di SMA Kartika VII-2 Kendari mendapatkan bimbingan dari guru pamong yang telah ditunjuk dari pihak sekolah untuk tiap program studi.
Beberapa kegiatan pada bimbingan Praktek di sekolah diantaranya adalah:
a) Pelatihan Keterampilan Mengajar
Pada tahap ini, penulis sebagai calon guru diharapkan dapat mengintegrasikan atau menerapkan berbagai kemampuan secara utuh dalam situasi nyata di sekolah yang ditempatkan di bawah bimbingan guru pamong. Fokus utama dalam latihan keterampilan mengajar terbimbing adalah untuk persiapan mengajar yang persiapannya adalah siswa.
b) Pelatihan Tugas-tugas Keguruan serta mengajar secara mandiri
Pelatihan keterampilan dilakukan selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran di lokasi KKP-PPL dimana tugas-tugas keguruan yang biasa dilakukan oleh guru di tambah keterampilan keahlian pribadi yang dimiliki mahasiswa.
Penulis diberi kesempatan secara mandiri untuk menerapkan secara utuh segala kemampuan keguruan dalam situasi nyata di sekolah. Namun guru pamong tetap memantau model pembelajaran yang diterapkan dengan mendiskusikan permasalahan yang ditemui Penulis di lapangan
2. Kegiatan / Proses Belajar Mengajar di dalam Kelas
a. Kegiatan Pendahuluan
1. Ketika masuk kelas yang dikerjakan guru adalah melihat keadaan kelas seperti kelengkapan belajar mengajar, dan menanyakan Pekerjaan Rumah (PR) yang telah diberikan.
2. Guru membuka mata pelajaran dengan cara apersepsi yaitu menanyakan kepada siswa mengenai materi yang telah diajarkan sebelumnya dan orientasi materi yang akan diajarkan
3. Pada saat membuka pelajaran guru memotivasi siswa agar giat belajar demi meraih cita-cita dan masa depan yang cerah
4. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
5. Ketika guru bersangkutan memaparkan materi, perhatian siswa dipusatkan kepada guru dan materi yang akan
Sabtu, 09 Juni 2012
Analisis situasi
A. Analisis Situasi (Permasalahan dan Potensi Pembelajaran)
1. Permasalahan
Mutu pendidikan harus terus dilakukan secara komperhensif. Salah satunya adalah melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Profesi (KKP) terintegrasi Program Pengalaman Lapangan (PPL) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo (FKIP Unhalu) yang didasarkan pada tuntunan obyektif profesionalisme guru sebagai upaya menjawab relevansi pendidikan yang dewasa ini dikemas dalam kebijakan link and mach. Ciri profesionalisme yang diharapkan ini tercermin dalam keteladanan layanan guru baik dalam hal penguasaan dimensi-dimensi keilmuan, kependidikan, dan keguruan secara utuh maupun sosial guru itu sendiri.
Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan kegiatan akademik yang bersifat intrakurikuler yang didalamnya termasuk kegiatan KKP (Kuliah Kerja Profesi). KKP terintegrasi PPL adalah kegiatan yang dikembangkan secara integratif dan kompherensif dengan kegiatan-kegiatan pelayanan kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen sesuai dengan bidang keahlian profesi.
Pendidikan yang sistematis dan sistemis merupakan pilar utama, baik dalam pembentukan kemampuan, sikap dan prilaku profesional mahasiswa FKIP sebagai calon guru maupun sebagai upaya memperkuat relevansi pendidikan dengan tuntutan masyarakat pada umumnya dan dunia persekolahan pada khususnya. Kerjasama antara dosen pembimbing, kepala sekolah dan guru pamong mempuyai peranan penting untuk pencapaian hasil yang maksimal. Selain itu pula, perlu adanya koordinasi yang baik antara lembaga konsumen, dalam hal ini Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Sulawesi Tenggara termasuk sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga yang berada di bawah pengawasannya dengan FKIP Unhalu sebagai produsen tenaga guru dan tenaga pendidik.
Pendidikan dewasa ini, telah menjadi kebutuhan masyarakat yang semakin hari semakin terasa arti pentingnya pendidikan. Namun, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi dalam proses pemenuhan akan pendidikan. Salah satu permasalahan yang mendasar yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah kualitas pendidikan.
Terkhusus di lingkungan SMA Kartika VII-2 Kendari, yaitu tentang keberadaan siswa di sekolah berkaitan dengan tempat proses pembelajaran berlangsung, pada umumnya sudah layak digunakan sebagai tempat belajar dengan adanya fasilitas yang cukup memadai seperti laboratorium komputer, perpustakaan, gedung kesenian dan laboratorium IPA dan bahasa. Sedangkan, dari segi kualitas pendidikan, di SMA Kartika VII-2 Kendari sudah cukup memiliki kemampuan yang memadai dengan agreditasi A. hal ini karena didukung dengan adanya sarana dan prasarana yang cukup untuk melakukan pelayanan pendidikan yang secara maksimal. SMA Kartika VII-2 Kendari Kendari tidak diragukan lagi kemampuannya untuk bersaing dengan SMA lain yang ada di Kota Kendari.
2. Potensi Pembelajaran
Dengan melihat jumlah siswa dan guru yang ada di SMA Kartika VII-2 Kendari, diperoleh rasio jumlah guru terhadap jumlah siswa sudah dapat menunjang lancarnya kegiatan proses pembelajaran dengan maksimal karena banyaknya guru tetap meskipun masih ada sebagian merupakan tenaga honor/bantu. Ditambah lagi dengan adanya mahasiswa KKP, ini menunjukan kegiatan belajar mengajar yang terlaksana dengan baik dan sebagaimana mestinya.
Adapun rinciannya sebagai berikut :
1. Kepala sekolah : 1 orang
2. Wakil kepala sekolah : 1 orang
3. Tenaga pengajar : 60 orang
4. Tata usaha : 1 orang
5. Teknisi lab.komputer : - orang
6. Laboran lab.IPA : - orang
7. Jumlah siswa keseluruhan : 1063 orang
Seorang guru dituntut agar menciptakan hubungan yang baik dengan keluarga siswa, antara guru dan siswa dan juga membina hubungan antara siswa (Depdiknas 2006: hal 4).
Pendidikan dalam hal ini guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada mayarakat. Sedangkan Pengajaran melambangkan pelaksanaan tugas rutin, penelitian melambangkan upaya pengembangan profesi, sedang pengabdian melambangkan pemberian kontribusi sosial kepada masyarakat akibat prestasi yang dicapai.
Pencapaian prestasi dalam bidang pendidikan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya untuk mencapai tujuan umum pendidikan, penambahan secara terus menerus baik dalam segi materi, metode evaluasi harus dilaksanakan oleh semua pihak, terutama guru. Salah satu perubahan yang terlihat jelas telah dilakukan di Indonesia yaitu telah berulang kali terjadi perubahan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
SMA Kartika VII-2 Kendari merupakan salah satu sekolah yang sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia pendidikan. SMA Kartika VII-2 Kendari adalah salah satu sekolah yang ada di Kota Kendari yang sudah banyak melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas dan berprestasi serta tidak diragukan lagi akan kemampuannya
Secara umum, siswa SMA Kartika VII-2 Kendari mempunyai kemampuan tersendiri, yaitu kemauan untuk belajar. Hal ini nampak pada proses pembelajaran. Keantusiasan dan perhatian mereka dalam menerima pelajaran. Hal ini juga didukung oleh guru-guru yang profesional. Guru selalu memberikan motivasi kepada siswa dan tidak membiarkan jam pelajaran kosong sebagaimana peraturanS yang diterapkan di sekolah tersebut agar tetap memperhatikan jadwal mengajar sehingga kedisiplinan belajar dapat berjalan dengan baik.
SMA Kartika VII-2 Kendari sudah cukup memiliki kemampuan yang memadai yaitu didukung dengan adanya sarana dan prasarana yang cukup untuk melakukan pelayanan pendidikan yang secara maksimal. Selain itu, SMA Kartika VII-2 Kendari juga didukung oleh tenaga pendidik yang berkualitas serta memiliki tingkat pendidikan rata-rata sarjana (S1) bahkan ada yang sudah Master (S2).
B. Perumusan Program dan Rancangan Kegiatan
Usaha peningkatan efisiensi dan kualitas penyelenggaraan proses pembelajaran terus dilakukan. Termasuk dalam hal ini mata kuliah lapangan seperti Kuliah Kerja Profesi (KKP) dan praktek pengalaman lapangan (PPL) menjadi konsentrasi untuk ditingkatkan kualitasnya. Untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, penyelenggaraan KKP dan PPL dilaksanakan secara terpadu yang selanjutnya disebut KKP-PPL.
Mata kuliah KKP-PPL mempunyai sasaran masyarakat sekolah, baik dalam kegiatan yang tekait dengan pembelajaran maupun kegiatan yang mendukung berlangsungnya pembelajaran. KKP-PPL diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa, terutama dalam hal pengalaman belajar, memperluas wawasan, melatih dan mengembangkan kompetensi yang diperlukan dalam bidangnya, meningkatkan keterampilan, kemandirian, tanggungjawab, dan kemampuan dalam memecahkan masalah.
Kegiatan KKP-PPL disekolah merupakan serangkaian kegiatan KKP-PPL yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa, peserta PPL yang telah dinyatakan berhasil dalam kegiatan pembimbingan dikampus. Kegiatan tersebut meliputi: 1) observasi dan Orientasi; 2) praktek mengajar; 3) partisipasi non mengajar ; dan 4) ujian akhir praktek mengajar.
Laporan ini memaparkan salah satu kegiatan KKP-PPL di SMA Kartika VII-2 Kendari yaitu kegiatan praktek mengajar. Kegiatan praktek mengajar pada dasarnya adalah kegiatan pengimplementasian teori selama kuliah ditambah dengan pembimbingan PPL di dalam kampus. Dalam pelaksanaan praktek mengajar di sekolah ini, Penulis mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru pamong. Kegiatan praktek mengajar di sekolah di bagi dalam 3 tahap kegiatan yaitu 1) praktek terbimbing yang dilaksanakan dalam 1 minggu; 2) praktek mandiri dilaksanakan selama 13 minggu; dan 3) ujian Praktek dilaksanakan dalam 1 minggu.
C. Peserta dan Personalia
Peserta
Peserta kegiatan KKP terintegrasi PPL adalah mahasiswa FKIP yang memenuhi persyaratan :
1. Mendaftarkan diri di UP-PPL dengan mengisi formulir pernyataan kesediaan mengikuti PPL yang disediakan oleh pengelola PPL.
2. Menyerahkan rekomendasi surat pengantar dari program studi masing-masing, bahwa mahasiswa yang bersangkutan layak mengikuti kegiatan PPL terintegrasi KKP.
3. Mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah KKP wajib mematuhi semua aturan dan ketentuan yang berlaku bagi peserta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unhalu
Jumat, 08 Juni 2012
prosedur penelitian
Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan menyelidiki variabel penelitian yaitu hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari.
Penelitian tindakan kelas ini merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur atau siklus seperti gambar berikut:
Gambar 1. Rancangan dan Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 2 (dua) siklus. Tiap siklus dilaksanakan satu kali pertemuan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang didesain dalam faktor yang diselidiki, untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa pada materi pokok pengukuran.
Dengan mengacu pada gambar 1, maka prosedur penelitian tindakan ini meliputi : 1) perencanaan; 2) pelaksanaan tindakan; 3) observasi dan evaluasi; 4) refleksi dalam setiap siklus.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
Siklus I
a. Perencanaan
Kegiatan pada tahap ini meliputi :
1) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP 01) untuk pertemuan pertama sesuai dengan langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual.
2) Membuat Lenbar Kegiatan (LKS 01)
3) Membuat lembar observasi aktivitas siswa selama KBM berlangsung, serta lembar aktivitas guru dalam menerapkan model pendekatan kontekstual.
4) Menyiapakan instrumen tes hasil belajar berupa tes essay yang digunakan pada akhir siklus (siklus 1) beserta kunci jawabannya.
5) Mengembangkan alat evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
b. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini meliputi : “Pelaksanaan Tindakan sesuai dengan penggunakan penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari pada sub pokok pengukuran, pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP 01) untuk pertemuan pertama dan RPP 02 untuk pertemuan ke-2.
c. Observasi dan Evalasi
Dalam tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Observasi dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran untuk memantau optimalisasi penerapan pendekatan kontekstual oleh peneliti yang dilakukan oleh satu observer yaitu guru IPA-Fisika dan untuk melihat aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh 3 orang observer. Dan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa pada materi pokok pengukuran dengan menggunakan tes hasil belajar (tes siklus I).
d. Refleksi
Pada tahap ini peneliti melaksanakan diskusi refleksi berdasarkan hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dan evaluasi. Untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan telah efektif serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada sub pokok bahasan pengukuran.
Dalam tahap ini, keunggulan dan kelemahan-kelemahan yang terjadi dipertahankan dan diperbaiki pada siklus berikutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah-langkah lebih lanjut pada siklus berikutnya.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan menyelidiki variabel penelitian yaitu hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari.
Penelitian tindakan kelas ini merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur atau siklus seperti gambar berikut:
Gambar 1. Rancangan dan Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 2 (dua) siklus. Tiap siklus dilaksanakan satu kali pertemuan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang didesain dalam faktor yang diselidiki, untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa pada materi pokok pengukuran.
Dengan mengacu pada gambar 1, maka prosedur penelitian tindakan ini meliputi : 1) perencanaan; 2) pelaksanaan tindakan; 3) observasi dan evaluasi; 4) refleksi dalam setiap siklus.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
Siklus I
a. Perencanaan
Kegiatan pada tahap ini meliputi :
1) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP 01) untuk pertemuan pertama sesuai dengan langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual.
2) Membuat Lenbar Kegiatan (LKS 01)
3) Membuat lembar observasi aktivitas siswa selama KBM berlangsung, serta lembar aktivitas guru dalam menerapkan model pendekatan kontekstual.
4) Menyiapakan instrumen tes hasil belajar berupa tes essay yang digunakan pada akhir siklus (siklus 1) beserta kunci jawabannya.
5) Mengembangkan alat evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
b. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini meliputi : “Pelaksanaan Tindakan sesuai dengan penggunakan penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari pada sub pokok pengukuran, pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP 01) untuk pertemuan pertama dan RPP 02 untuk pertemuan ke-2.
c. Observasi dan Evalasi
Dalam tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Observasi dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran untuk memantau optimalisasi penerapan pendekatan kontekstual oleh peneliti yang dilakukan oleh satu observer yaitu guru IPA-Fisika dan untuk melihat aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh 3 orang observer. Dan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa pada materi pokok pengukuran dengan menggunakan tes hasil belajar (tes siklus I).
d. Refleksi
Pada tahap ini peneliti melaksanakan diskusi refleksi berdasarkan hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dan evaluasi. Untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan telah efektif serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada sub pokok bahasan pengukuran.
Dalam tahap ini, keunggulan dan kelemahan-kelemahan yang terjadi dipertahankan dan diperbaiki pada siklus berikutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah-langkah lebih lanjut pada siklus berikutnya.
penelitian yang relevan
H. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Anwar (2008:62), di mana hasil penelitiannya menunjukan bahwa melalui pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kreatifitas berfikir siswa terhadap konsep cahaya di kelas V SD Negeri I Baruga Kota Kendari.
Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hendra Kospian (2008:53), di mana hasil penelitian yang menunjukan bahwa melalui pembelajaran dengan mengunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep pengurangan bilangan bulat.
I. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research. PTK ini dilakukan dengan penerapan pendekatan kontekstul untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 yang bertempat di Kota Kendari, Kecamatan Kambu yaitu di SMP Negeri 10 Kendari kelas VII.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari yang terdaftar pada semester genap tahun ajaran 2012/2013.
4. Faktor yang Diteliti
Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Faktor siswa: untuk melihat peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari.
b. Faktor guru: memperhatikan bagaimana guru mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran dengan penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari.
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Anwar (2008:62), di mana hasil penelitiannya menunjukan bahwa melalui pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kreatifitas berfikir siswa terhadap konsep cahaya di kelas V SD Negeri I Baruga Kota Kendari.
Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hendra Kospian (2008:53), di mana hasil penelitian yang menunjukan bahwa melalui pembelajaran dengan mengunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep pengurangan bilangan bulat.
I. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research. PTK ini dilakukan dengan penerapan pendekatan kontekstul untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 yang bertempat di Kota Kendari, Kecamatan Kambu yaitu di SMP Negeri 10 Kendari kelas VII.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari yang terdaftar pada semester genap tahun ajaran 2012/2013.
4. Faktor yang Diteliti
Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Faktor siswa: untuk melihat peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari.
b. Faktor guru: memperhatikan bagaimana guru mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran dengan penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok pengukuran pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Kendari.
model pembelajaran kontekstual
G. Model-Model Pembelajaran Kontekstual
Berdasarkan teori kontruktivisme, maka menurut Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah, maka dalam pembelajaran di sekolah diterapkan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang disingkat CTL.
Model pembelajaran menurut Joyce dan Weil dan Showers (1996) paling tidak dikembangkan melalui: (1) dasar teori, (2) tujuan pendidikan , dan (3) perilaku dosen/guru dan siswa. Istilah lain sebelumnya digunakan adalah strategi pengajaran, metode pengajaran atau prinsip pengajaran.
Adapun cirri-ciri khusus model pengajaran adalah : (1) alasan teoritik yang masuk akal, (2) tujuan pembelajaran, (3) perilaku guru yang diharapkan, dan (4) struktur kelas yang dikehendaki
Seiring dengan pengembangan kualitas pembelajaran di sekolah, Depdiknas telah melakukan berbagai upaya antara lain melalui pengembangan kurikulum yang rencananya pada tahun ajaran 2009/2010 akan memberlakukan secara nasional Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP). Melalui KTSP memberikan peluang kepada sekolah untuk mengembangkan potensi yang ada di sekolah.
Dalam penerapan pendekatan CTL di sekolah-sekolah, ada tiga model-model pengajaran ditambah dengan satu strategi-strategi belajar yang sering diterapakan baik secara sendiri-sendiri, maupun secara terpadu atau multi model, yaitu : (a). Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction atau DI) (b). Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
a) Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction atau DI)
Model pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori belajar sosial oleh Albert Bandura dimana sebagian besar manusia dapat belajar melalui pengamatan secara selektif dengan mengingat tingkah laku orang lain (Kardi dan Nur, 2000).
Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Adapun langkah-langkah atau sinteks pelaksanaan pengajaran langsung dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut.
Table 2.2. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Langsung
Fase-Fase Peran Guru
1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa 1. Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajar, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
2. Mendemostrasikan pengetahuan atau keterampilan 2. Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap
3. Membimbing pelatihan 3. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik 4. Mengecek apakah mahasiswa/siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, member umpan balik
5. Memberi kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan 5. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dengan pelatihan khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber : Joyce dan Weil dan Showers, 1996
b) Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pengembangan teori kontruktivis paling banyak memberikan sumbangan terhadap pengembangan model pembelajaran kooperatif dan model pengajaran berdasarkan masalah.
Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kontruktivis teori belajar Vygotsky tentang penekanan pada hakikat sosial-kultural dari pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang menghendaki siswa belajar secara kelompok dengan jumlah anggota 4 sampai 6 orang dalam kondisi kemampuan akademik, jenis kelamin, dan etnis secara heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku. Hal ini bermanfaatuntuk melatih siswa menerimaperbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1994). Adapun sintaks pelaksanaan model CL dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut:
Tabel 2.3. Sintaks Kegiatan Pembelajaran Model CL
Fase-Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase 2:
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4:
Membimbing siswa dalam kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5:
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pelajaran dan kemudian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil karyanya
Fase 6:
Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
Berdasarkan teori kontruktivisme, maka menurut Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah, maka dalam pembelajaran di sekolah diterapkan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang disingkat CTL.
Model pembelajaran menurut Joyce dan Weil dan Showers (1996) paling tidak dikembangkan melalui: (1) dasar teori, (2) tujuan pendidikan , dan (3) perilaku dosen/guru dan siswa. Istilah lain sebelumnya digunakan adalah strategi pengajaran, metode pengajaran atau prinsip pengajaran.
Adapun cirri-ciri khusus model pengajaran adalah : (1) alasan teoritik yang masuk akal, (2) tujuan pembelajaran, (3) perilaku guru yang diharapkan, dan (4) struktur kelas yang dikehendaki
Seiring dengan pengembangan kualitas pembelajaran di sekolah, Depdiknas telah melakukan berbagai upaya antara lain melalui pengembangan kurikulum yang rencananya pada tahun ajaran 2009/2010 akan memberlakukan secara nasional Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP). Melalui KTSP memberikan peluang kepada sekolah untuk mengembangkan potensi yang ada di sekolah.
Dalam penerapan pendekatan CTL di sekolah-sekolah, ada tiga model-model pengajaran ditambah dengan satu strategi-strategi belajar yang sering diterapakan baik secara sendiri-sendiri, maupun secara terpadu atau multi model, yaitu : (a). Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction atau DI) (b). Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
a) Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction atau DI)
Model pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori belajar sosial oleh Albert Bandura dimana sebagian besar manusia dapat belajar melalui pengamatan secara selektif dengan mengingat tingkah laku orang lain (Kardi dan Nur, 2000).
Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Adapun langkah-langkah atau sinteks pelaksanaan pengajaran langsung dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut.
Table 2.2. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Langsung
Fase-Fase Peran Guru
1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa 1. Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajar, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
2. Mendemostrasikan pengetahuan atau keterampilan 2. Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap
3. Membimbing pelatihan 3. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik 4. Mengecek apakah mahasiswa/siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, member umpan balik
5. Memberi kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan 5. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dengan pelatihan khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber : Joyce dan Weil dan Showers, 1996
b) Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pengembangan teori kontruktivis paling banyak memberikan sumbangan terhadap pengembangan model pembelajaran kooperatif dan model pengajaran berdasarkan masalah.
Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kontruktivis teori belajar Vygotsky tentang penekanan pada hakikat sosial-kultural dari pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang menghendaki siswa belajar secara kelompok dengan jumlah anggota 4 sampai 6 orang dalam kondisi kemampuan akademik, jenis kelamin, dan etnis secara heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku. Hal ini bermanfaatuntuk melatih siswa menerimaperbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1994). Adapun sintaks pelaksanaan model CL dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut:
Tabel 2.3. Sintaks Kegiatan Pembelajaran Model CL
Fase-Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase 2:
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4:
Membimbing siswa dalam kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5:
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pelajaran dan kemudian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil karyanya
Fase 6:
Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
prinsip dasar komponen kontektual
F. Prinsip Dasar Komponen Contekstual Teaching and Learning
Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic). Adapun tujuh komponen tersebut sebagai berikut:
a. Konstruktivisme (constructivism). Komponen ini merupakan landasan filosofis (berpikir) pendekatan CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya. Pembelajaran yang berciri kontruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarakan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta, konsep dan kaidah yang siap dipraktikannya. Manusia harus mengkonstruksikannya terlebih dahulu pengetahuan tersebut dan memberikan makna melaui memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
b. Menemukan (Inquiry). Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphokegtesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion). Komponen menemukan merupakan kegiatan inti CTL. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.
c. Bertanya (Questioning). Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Komponen ini merupakan strategipembelajaran CTL. Belajar dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengrahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Pada sisi lain, kenyataan menunjukan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community). Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Konsep ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu kepada yang tidah tahu, baik di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, pembelajaran yang dikemas dalam berdiskusi kelompok yang anggotanya heterogen dengan jumlah yang bervariasi, sangat mendukung komponen learning community ini.
e. Pemodelan (Modeling). Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar. Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa berupa contoh tentang cara mengoperasikan sesuatu, menuujakkan hasil karya, mempertonton suatu penampilan. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa daripada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukan modelnya atau contohnya.
f. Refleksi (Reflection). Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu. Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Dengan demikian apa yang baru saja dipelajari, menelaah dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimilikinya sebelumnya. Kesdaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru.
g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment). Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil. Konsep yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. Dengan demikian, penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah yang dikumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung, bukan semata-mata pada hasil pembelajaran
Bertolak dari prinsip-prinsip dasar pada setiap komponen pada pendekatan CTL tersebut, kata-kata kunci (keywords) yang dapat dipakai sebagai pengingat guru ketika melaksanakan pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Lerning adalah sebagai berikut:
a. Belajar pada hakekatnya adalah real-word lerning, yaitu belajar dari kenyataan yang biasa diamati, dipraktikan, dirasakan dan diuji coba
b. Belajar adalah mengutamakan pengalaman nyata, bukan pengalaman yang hanya diagung-agungkan saja, yang tidak bias dibuktikan secara empiris
c. Belajar adalah bberpikir tingkat tinggi, yaitu berpikir kritis yang mengedepankan siklus, inquiry mulai dari mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara, mengumpulkan data, menganalisis data, sampai dengan merumuskan kesimpulan
d. Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa, yaitu pembelajaran yang memberikan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan serangkaian kegiatan secara maksimal
e. Kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan siswa aktif, kritis, dan kreatif
f. Kegiatan pembelajaran menghasilkan pengetahuan bermakna dalam kehidupan
g. Kegiatan pembelajaran harus dekat dengan kehidupan nyata
h. Kegiatan pembelajaran harus bias menunjukkan perubahan perilaku siswa sesuai yang diinginkan
i. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada siswa praktik, bukan menghafal
j. Pembelajaran bias menciptakan siswa belajar (learning), bukan guru mengajar (teaching)
k. Saran pembelajaran adalah pendidikan (education), bukan pengajaran (instruction)
l. Pembelajaran diarahkan pada pembentukan perilaku manusi yang berbudaya
m. Strategi pembelajaran diarahkan pada pemecahan masalah sehingga siswa lebih berpikir kritis
n. Situasi pembelajaran dikondisikan agar siswa lebih banyak bertindak (acting), sedangkan guru hanya mengarahkan
o. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara, bukan hanya denga tes
(Muslich, 2009: 40-52)
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring).
a. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
b. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubugkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelpinsiumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
c. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
d. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
e. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hafalan.
Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic). Adapun tujuh komponen tersebut sebagai berikut:
a. Konstruktivisme (constructivism). Komponen ini merupakan landasan filosofis (berpikir) pendekatan CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya. Pembelajaran yang berciri kontruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarakan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta, konsep dan kaidah yang siap dipraktikannya. Manusia harus mengkonstruksikannya terlebih dahulu pengetahuan tersebut dan memberikan makna melaui memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
b. Menemukan (Inquiry). Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphokegtesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion). Komponen menemukan merupakan kegiatan inti CTL. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.
c. Bertanya (Questioning). Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Komponen ini merupakan strategipembelajaran CTL. Belajar dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengrahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Pada sisi lain, kenyataan menunjukan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community). Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Konsep ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu kepada yang tidah tahu, baik di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, pembelajaran yang dikemas dalam berdiskusi kelompok yang anggotanya heterogen dengan jumlah yang bervariasi, sangat mendukung komponen learning community ini.
e. Pemodelan (Modeling). Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar. Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa berupa contoh tentang cara mengoperasikan sesuatu, menuujakkan hasil karya, mempertonton suatu penampilan. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa daripada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukan modelnya atau contohnya.
f. Refleksi (Reflection). Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu. Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Dengan demikian apa yang baru saja dipelajari, menelaah dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimilikinya sebelumnya. Kesdaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru.
g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment). Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil. Konsep yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. Dengan demikian, penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah yang dikumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung, bukan semata-mata pada hasil pembelajaran
Bertolak dari prinsip-prinsip dasar pada setiap komponen pada pendekatan CTL tersebut, kata-kata kunci (keywords) yang dapat dipakai sebagai pengingat guru ketika melaksanakan pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Lerning adalah sebagai berikut:
a. Belajar pada hakekatnya adalah real-word lerning, yaitu belajar dari kenyataan yang biasa diamati, dipraktikan, dirasakan dan diuji coba
b. Belajar adalah mengutamakan pengalaman nyata, bukan pengalaman yang hanya diagung-agungkan saja, yang tidak bias dibuktikan secara empiris
c. Belajar adalah bberpikir tingkat tinggi, yaitu berpikir kritis yang mengedepankan siklus, inquiry mulai dari mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara, mengumpulkan data, menganalisis data, sampai dengan merumuskan kesimpulan
d. Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa, yaitu pembelajaran yang memberikan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan serangkaian kegiatan secara maksimal
e. Kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan siswa aktif, kritis, dan kreatif
f. Kegiatan pembelajaran menghasilkan pengetahuan bermakna dalam kehidupan
g. Kegiatan pembelajaran harus dekat dengan kehidupan nyata
h. Kegiatan pembelajaran harus bias menunjukkan perubahan perilaku siswa sesuai yang diinginkan
i. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada siswa praktik, bukan menghafal
j. Pembelajaran bias menciptakan siswa belajar (learning), bukan guru mengajar (teaching)
k. Saran pembelajaran adalah pendidikan (education), bukan pengajaran (instruction)
l. Pembelajaran diarahkan pada pembentukan perilaku manusi yang berbudaya
m. Strategi pembelajaran diarahkan pada pemecahan masalah sehingga siswa lebih berpikir kritis
n. Situasi pembelajaran dikondisikan agar siswa lebih banyak bertindak (acting), sedangkan guru hanya mengarahkan
o. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara, bukan hanya denga tes
(Muslich, 2009: 40-52)
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring).
a. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
b. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubugkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelpinsiumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
c. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
d. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
e. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hafalan.
komponen pembelajaran kontekstual
E. Komponen Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu (1) constructivism (kontruktivisme, membangun, membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry (menyelidiki, menemukan), (4) learning community (masyarakat belajar), (5) modeling (pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan balik), (7) authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Apabila tujuah komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, terlihat pada realitas berikut.
1. Kegiatan yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2. Kegiatan belajar yang mendorong sikap keingintahuan siswa lewat bertanya tentang topikatau permasalahan yang akan dipelajari
3. Kegiatan belajar yang bisa mengkondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki, menganalisis topik atau permasalahan yang dihadapi sehingga ia berhasil ”menemukan” sesuatu
4. Kegiatan belajar yang bisa menciptakan suasan belajar bersama atau berkelompok sehingga ia bisa berdiskusi, curah pendapat, bekerjasama, dan saling membantu dengan teman lain
5. Kegiatan belajar yang bisa menunjukan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk penampilan tokoh, demonstrasi kegiatan, penampilan hasil karya, cara mengoperasikan, sesuatu, dan sebagainya.
6. Kegiatan belajar yang memberikan refleksi atau umpan balik dalam bentuk tanya jawab dengan siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya, merekontruksikegiatan yang telah dilakukan, kesa siswa selama melakukan kegiatan, dan saran atau harapan siswa.
7. Kegiatan belajar yang bisa diamati secara periodik perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatan-kegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu (1) constructivism (kontruktivisme, membangun, membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry (menyelidiki, menemukan), (4) learning community (masyarakat belajar), (5) modeling (pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan balik), (7) authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Apabila tujuah komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, terlihat pada realitas berikut.
1. Kegiatan yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2. Kegiatan belajar yang mendorong sikap keingintahuan siswa lewat bertanya tentang topikatau permasalahan yang akan dipelajari
3. Kegiatan belajar yang bisa mengkondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki, menganalisis topik atau permasalahan yang dihadapi sehingga ia berhasil ”menemukan” sesuatu
4. Kegiatan belajar yang bisa menciptakan suasan belajar bersama atau berkelompok sehingga ia bisa berdiskusi, curah pendapat, bekerjasama, dan saling membantu dengan teman lain
5. Kegiatan belajar yang bisa menunjukan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk penampilan tokoh, demonstrasi kegiatan, penampilan hasil karya, cara mengoperasikan, sesuatu, dan sebagainya.
6. Kegiatan belajar yang memberikan refleksi atau umpan balik dalam bentuk tanya jawab dengan siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya, merekontruksikegiatan yang telah dilakukan, kesa siswa selama melakukan kegiatan, dan saran atau harapan siswa.
7. Kegiatan belajar yang bisa diamati secara periodik perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatan-kegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung
Langganan:
Postingan (Atom)