Jumat, 08 Juni 2012

hasil belajar

B.    Hasil Belajar
Belajar adalah sesuatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berlangsung di mana-mana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat, baik disadari maupun tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja.
Menurut WS. Winkel (1989: 36) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam suatu interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan ini relatif konstan dan berbekas (TIM MKDK IKIP Semarang, 2000:4).
Hakikat belajar dan mengajar yang lebih progresif berbeda dengan hakikat belajar dan mengajar dengan pola tradisional. Pada pola tradisional, kegiatan mengajar lebih diarahkan pada aliran informasi dari guru ke siswa. Pandangan ini mendorong guru untuk memerankan diri sebagai tukang ajar. Artinya apabila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan serta menuntaskan/menyelesaikan semua materi pelajaran sesuai dengan waktu yang disediakan. Pada pola progresif makna belajar diartikan sebagai pembangunan gagasan pengetahuan oleh siswa sendiri selain peningkatan ketrampilan dan pengembangan sikap positif. 
Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teachers centered” diganti dengan istilah pembelajaran. Diharapkan dengan penggunaan istilah pembelajaran guru akan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal.
Sesuai dengan pengertian belajar yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku, maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa secara sadar dan sengaja, agar proses belajar dapat berjalan dengan maksimal, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (TIM MKDK IKIP Semarang, 2000:24).
Karena pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja, maka pembelajaran itu bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.
Tujuan-tujuan belajar diusahakan untuk dicapai dalam proses atau kegiatan belajar pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan ketrampilan dan sikap siswa akibat dari hasil belajar yang telah dilakukan siswa (Arikunto, 2002: 132). Jadi, apabila tujuan pembelajaran tercapai maka akan nampak pada diri siswa perubahan-perubahan yang meliputi kemampuan intelektual, sikap/minat maupun ketrampilan.
Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. Sistem lingkungan belajar ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa komponen yang masing-masing saling mempengaruhi. Komponen-komponen itu misalnya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, peran serta guru dan siswa dalam pembelajaran, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana belajar dan pembelajaran yang tersedia (Sutomo dkk, 1998:29). Jadi seorang guru dalam pembelajaran harus sudah memiliki rencana dan menetapkan strategi belajar pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, agar konsep dan teori yang disajikan dapat menjadi bagian dari struktur kognitif siswa.
Untuk pencapaian tujuan tersebut tidak cukup guru berceramah dari menit pertama sampai menit terakhir pada setiap KBM. Akan tetapi siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan praktis dalam bentuk percobaan atau penelitian.
Strategi belajar diperlukan agar belajar dapat mencapai tujuannya. Oleh karena itu diperlukan suatu cara/metode yang digunakan. Metode merupakan hal penting dalam proses belajar pembelajaran karena sebagai sarana untuk mendukung kegiatan guru dan siswa di dalam kelas, jika guru menerapkan metode yang kurang tepat maka hasil yang dicapai kurang memuaskan, dan sebaliknya jika guru menerapkan metode yang tepat maka hasil yang dicapai memuaskan. Metode juga berperan sebagai alat untuk menciptakan proses belajar pembelajaran, dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa yang dapat memotivasi siswa untuk belajar. Motivasi belajar siswa tidak selalu timbul dalam diri siswa sebagian siswa mempunyai motivasi yang tinggi, tetapi sebagian rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagi siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar, besar kemungkinan ia tidak akan mencapai tujuannya.
Apabila dicapai kualitas pembelajaran yang baik maka akan dicapai pula hasil belajar yang baik. Pengertian hasil belajar dalam hal ini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia melaksanakan pengalaman belajarnya (Sudjana, 1989:22). Bloom dalam Sudjana membagi tiga ranah hasil belajar yaitu:
1.    Ranah Kognitif. Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
2.    Ranah Afektif. Berkenaan dengan sikap yang terdiri dai lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi penilaian, organisasi dan internalisasi.
3.    Ranah Psikomotorik. Berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemauan bertindak, ada enam aspek yaitu gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, ketrampilan membedakan secara visual, ketrampilan dibidang fisik, ketrampilan komplek dan komunikasi.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Hasil kognitif diukur pada awal dan akhir pembelajaran, sedangkan untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik diukur pada proses pembelajaran untuk mengetahui sikap dan ketrampilan siswa.
Untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal, seorang guru harus dapat memilih model pembelajaran yang efektif dan efisien, serta metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa agar situasi kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, dengan suasana yang tidak membosankan siswa.
Untuk menyatakan bahwa proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila Kompetensi Dasarnya dapat dicapai.
Untuk mengetahui tercapai tidaknya kompetensi dasar, guru perlu mengadakan tes setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada siswa. Fungsi penilaian ini adalah memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program berikutnya bagi siswa belum berhasil.
Tes hasil belajar menurut Trianto (2007a:76) adalah butir tes yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, tes ini dibuat mengacu pada kompetensi dasar yang ingin dicapai, dijabarkan ke dalam indikator pencapaian hasil belajar daan disusun berdasarkan kisi-kisi penulis butir soal lengkap dengan kunci jawabannya serta lembar observasi penilaian psikomotor kinerja siswa. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar